Rabu, 07 Mei 2008
Harga BBM Luar dan Dalam Negeri Mengalami Kenaikan
Energi Alternatif
bagaimana sikap kita atas dinamika diatas, yangmana pengguna energi BBM tanah, merupakan mayoritas pengguna bahan bakar tadi. Salah satu jalan untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) adalah mencari sumber energi alternatif yang dapat diperbarui (renewable).
biogas merupakan energi yang ramah lingkungan dan dapat diterapkan untuk berbagai skala penggunaan.
“Singkong dapat diolah menjadi bioetanol dan kelapa sawit menjadi biodiesel yang bisa dimanfaatkan dengan mencampur sepuluh persen dari keempat jenis BBM,” kata Kusmayanto Kadiman kepada wartawan di Sanur, Bali, Rabu (13/7/2005).
Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman (2005)menegaskan, kemajuan teknologi kini mampu mengubah singkong dan kelapa sawit menjadi energi alternatif dalam mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM).
Beberapa sumber energi yang dapat dipergunakan di antaranya adalah penggunaan bahan bakar batu bara, gas, energi angin, energi surya, panas bumi, biofuel termasuk di dalamnya biodiesel, bio etanol dan bio oil. Energi lainnya yaitu energi arus laut, fuel cell dan energi nuklir juga telah dikembangkan (BPPT, 2008). padahal, di negara-negera lain penggunaan energi telah digunakan secara diversifikasi.
Beberapa lembaga peneliti mengungkapkan bahwa energi alternatif yang digunakan sebagai bahan bakar masih banyak dan belum pernah dipublikasikan. saat ini juga banyak digunakan briket ranting kayu, sebagai bahan bakar dalam memasak selain kayu bakar ....
Rabu, 09 April 2008
Ekologi
Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914).
Ekologi adalah cabang ilmu biologi yangbanyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi
Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.
Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Faktor Biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.
| Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup adalah sebagai berikut. Perhatikan Gambar. | Gbr. Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup |
A. Individu
Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap, kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi.
1. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a. Gigi-gigi khusus
Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya.
b. Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga.
c. Paruh
Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya.
d. Daun
Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang diperlukan.
e. Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas.
2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.
a. Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.
b. Kantong tinta
Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita.
c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya.
3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya sebagai berikut :
a. Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.
b. Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut.
B. Populasi
Kumpulan individu sejenis yang hidup padasuatu daerah dan waktu tertentu disebut populasi Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang.
Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700 batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka kita membagi jumlah batang pohon yangberkurang dengan lamanya waktu perubahan terjadi :
700 - 500
= 200batang
1990-1980
10 tahun
= 20 batang/tahun
Dari rumus hitungan di atas kita dapatkan kesimpulan bahwa rata-rata berkurangnya pohon tiap tahun adalah 20 batang. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penyebab kecepatan rata-rata dinamika populasi ada berbagai hal. Dari alam mungkin disebabkan oleh bencana alam, kebakaran, serangan penyakit, sedangkan dari manusia misalnya karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik iniantara lain : kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas danmortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi.
Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnyahewan dan manusia. Imigrasi adalahperpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan populasi.
Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi akan menurunkan jumlah populasi. Populasi hewan atau tumbuhan dapat berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.
C. Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.
Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
D. Ekosistem
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).
Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.
a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.
b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.
c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.
d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.
e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.
f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.
g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.
Interaksi antarkomponen ekologi dapatmerupakan interaksi antarorganisme,antarpopulasi, dan antarkomunitas.
A. Interaksi antar organisme
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.
a. Netral
Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
b. Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
c. Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.
contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang.
d. Komensalisme
Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
e. Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.
B. Interaksi Antarpopulasi
Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.
Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
C. Interaksi Antar Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.
Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.
D. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.
Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang datang gangguan dariluar, kesimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan baru.
Rangkaian perubahan mulai dari ekosistem tanaman perintis sampai mencapai ekosistem klimaks disebut suksesi. Terjadinya suksesi dapat kita amati pada daerah yang baru saja mengalami letusan gunung berapi. Rangkaian suksesinya sebagai berikut.
Mula-mula daerah tersebut gersang dan tandus. Setelah beberapa saat tanah akan ditumbuhi oleh tumbuhan perintis, misalnya lumut kerak. Tumbuhan perintis ini akan menggemburkan tanah, sehingga tanah dapat ditumbuhi rumput-rumputan yang tahan kekeringan. Setelah rumput-rumput ini tumbuh dengan suburnya, tanah akan makin gembur karena akar-akar rumput dapat menembus dan melapukan tanah, juga karena rumput yang mati akan mengundang datangnya dekomposer (pengurai) untuk menguraikan sisa tumbuhan yang mati. Dengan semakin subur dan gemburnya tanah maka biji-biji semak yang terbawa dari luar daerah itu akan tumbuh, sehingga proses pelapukkan akan semakin banyak. Dengan makin gemburnya tanah, pohon-pohon akan mulai tumbuh. Kehadiran pohon-pohon akan mendesak kehidupan rumput dan semak sehingga akhirnya tanah akan didominasi oleh pepohonan. Sejalan dengan perubahan vegetasi, hewan-hewan yang menghuni daerah tersebut juga mengalami perubahan tergantung pada perubahan jenis vegetasi yang ada. Ada hewan yang datang dan ada hewan yang pergi. Komunitas klimaks yang terbentuk dapat berupa komunitas yang homogen, tapi dapat juga komunitas yang heterogen. Contoh komunitas klimaks homogen adalah hutan pinus, hutan jati. Contoh komunitas klimaks yang heterogen misalnya hutan hujan tropis.
Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di dalam ekosistem terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia.
Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan.
Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.
1. Rantai Pemangsa
Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
2. Rantai Parasit
Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.
3. Rantai Saprofit
Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya sehingga membentuk faring-faring makanan.
4. Rantai Makanan dan Tingkat Trofik
Salah satu cara suatu komunitas berinteraksi adalah dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga terjadi pemindahan energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai makanan.
Organisme dalam kelompok ekologis yang terlibat dalam rantai makanan digolongkan dalam tingkat-tingkat trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh organisme pada rantai makanan yang bernomor sama dalam tingkat memakan.
Sumber asal energi adalah matahari. Tumbuhan yang menghasilkan gula lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C02 dari udara. Oleh karena itu, tumbuhan tersebut digolongkan dalam tingkat trofik pertama. Hewan herbivora atau organisme yang memakan tumbuhan termasuk anggota tingkat trofik kedua. Karnivora yang secara langsung memakan herbivora termasuk tingkat trofik ketiga, sedangkan karnivora yang memakan karnivora di tingkat trofik tiga termasuk dalam anggota iingkat trofik keempat.
5. Piramida Ekologi
Struktur trofik pada ekosistem dapat disajikan dalam bentuk piramida ekologi. Ada 3 jenis piramida ekologi, yaitu piramida jumlah, piramida biomassa, dan piramida energi.
a. Piramida jumlah
Organisme dengan tingkat trofik masing - masing dapat disajikan dalam piramida jumlah, seperti kita Organisme di tingkat trofik pertama biasanya paling melimpah, sedangkan organisme di tingkat trofik kedua, ketiga, dan selanjutnya makin berkurang. Dapat dikatakan bahwa pada kebanyakan komunitas normal, jumlah tumbuhan selalu lebih banyak daripada organisme herbivora. Demikian pula jumlah herbivora selalu lebih banyak daripada jumlah karnivora tingkat 1. Kamivora tingkat 1 juga selalu lebih banyak daripada karnivora tingkat 2. Piramida jumlah ini di dasarkan atas jumlah organisme di tiap tingkat trofik.
b. Piramida biomassa
Seringkali piramida jumlah yang sederhana kurang membantu dalam memperagakan aliran energi dalam ekosistem. Penggambaran yang lebih realistik dapat disajikan dengan piramida biomassa. Biomassa adalah ukuran berat materi hidup di waktu tertentu. Untuk mengukur biomassa di tiap tingkat trofik maka rata-rata berat organisme di tiap tingkat harus diukur kemudian barulah jumlah organisme di tiap tingkat diperkirakan.
Piramida biomassa berfungsi menggambarkan perpaduan massa seluruh organisme di habitat tertentu, dan diukur dalam gram.
Untuk menghindari kerusakan habitat maka biasanya hanya diambil sedikit sampel dan diukur, kemudian total seluruh biomassa dihitung. Dengan pengukuran seperti ini akan didapat informasi yang lebih akurat tentang apa yang terjadi pada ekosistem.
c. Piramida energi
Seringkali piramida biomassa tidak selalu memberi informasi yang kita butuhkan tentang ekosistem tertentu. Lain dengan Piramida energi yang dibuat berdasarkan observasi yang dilakukan dalam waktu yang lama. Piramida energi mampu memberikan gambaran paling akurat tentang aliran energi dalam ekosistem.
Pada piramida energi terjadi penurunan sejumlah energi berturut-turut yang tersedia di tiap tingkat trofik. Berkurang-nya energi yang terjadi di setiap trofik terjadi karena hal-hal berikut.
1. Hanya sejumlah makanan tertentu yang ditangkap dan
dimakan oleh tingkat trofik selanjutnya.
2. Beberapa makanan yang dimakan tidak bisa dicemakan dan
dikeluarkan sebagai sampah.
3. Hanya sebagian makanan yang dicerna menjadi bagian dari
tubuh organisms, sedangkan sisanya digunakan sebagai
sumber energi.
Available at:
Senin, 24 Maret 2008
Ikan Jenis Langka ditemukan

Seekor ikan pari jenis Giant Shovel (Rhinobatos typus) yang besar/raksasa, dengan seekor ikan pari Cowtail yang jarang dijumpai di daerah ini. Kedua ikan pari tersebut ditangkap dengan jala oleh penduduk Kamoro di sebuah muara dekat kota Timika. Sirip dari ikan pari berukuran besar berharga sekali untuk masakan Cina, dan lebih mahal dari sirip ikan hiu. Jika demikian, pembudidayaan ikan ini bisa dilakukan, oleh berbagai fihak, terutama dengan memberdayakan usaha ekonomi masyarakat lokal...
Senin, 10 Maret 2008
Profil Desa dan Kelurahan
Kebutuhan Data menjadi semakin urgen ketika suatu program/kebijakan akan dilakukan. Data memang mahal, terutama untuk data yang valid, update, yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahan, atau data tidak acak, karena itu dalam rangka meningkatkan kualifikasi kinerja pembangunan perlu dilakukan pendataan. Data profil desa dan kelurahan adalah data yang mencakup dua elemen utama, yaitu : Data Potensi, dan Data Tingkat Perkembangan.
Data Potensi berisikan potensi-potensi yang ada desa atau di kelurahan. Data Potensi terdiri dari Potensi Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Kelembagaan dan Potensi Sarana prasarana yang tersedia.
Data Potensi mencakup potensi-potensi SDA yang memberikan kriteria, karakter dan tipikal sebuah desa atau kelurahan. Type-type desa atau kelurahan yang dapat diidentitikasi berdasarkan program aplikasi didasarkan pada penilaian skoring mata pencaharian dan eksistensi kawasan. type-type desa atau kelurahan yaitu : desa persawahan, desa nelayan, desa industri besar, desa industri sedang/kecil, desa perladangan, desa perkebunan, dll (lihat Permendagri No. 12 Th. 2007).
Sedangkan Data tingkat Perkembangan, meggambarkan Tingkat perkembangan kemajuan, atau kemunduran suatu desa/kelurahan dilihat dari berbagai parameter yang dinilai. Keseluruhan skoring potensi dan tingkat perkembangan inilah yang menjadi acuan untuk kriteria suatu desa atau kelurahan swasembada, swadakarya dan swadaya.
Sejalan dengan dikeluarkannya Permendagri Nomor: 12 Tahun 2007 tentang Pedoman dan Pendayagunaan Data Profil Desa dan Kelurahan telah dilakukan Sosialisasi maupun Bimbingan Teknis di Pusat maupun di daerah. Sosbintek pada tahap pertama dilakukan di pusat tahun 2007 dengan dua materi sekaligus yaitu sosbintek Profil Desa dan sosbintek Penyelenggaraan Perlombaan Desa dan Kelurahan. Peserta berasal dari Badan/Dinas/Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa di tingkat Provinsi, dan peserta Kabupaten/Kota yang memiliki komitmen terhadap profil desa maupun aplikasi perlombaan desa dan kelurahan. Beberapa daerah provinsi, maupun kabupaten/kota juga sudah melakukan sosbintek profil desa dan kelurahan diantaranya, Provinsi Gorontalo, Sulsel, Sultra, Papua, Maluku utara dan lain sebagainya, kabupaten/Kota diantaranya Kota Palangkaraya, Kab. Cianjur, Kota Kendari, dan lain-lain
Karena beberapa kendala teknis, kadang program aplikasi di daerah tidak dapat digunakan sekembalinya peserta dari sosbintek, sehingga pendataan profil desa dan kelurahan di daerah agak terhambat. Untuk itu penulis menyediakan program aplikasi di website ini, agar daerah yang berkepentingan terhadap pendataan profil desa dan kelurahan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Program aplikasi berdasarkan source-nya hanya satu kesatuan program aplikasi, karena kemampuan 4shared terbatas dalam meng-upload file dalam jumlah besar, maka program aplikasi ini dipisahkan menjadi 6 bagian. Masing-masing bagian (file) dapat di download, yang kemudian dapat diintegrasikan kembali menjadi satu bagian menjadi program aplikasi. Selamat mencoba…
Kamis, 24 Januari 2008
Pedagang Jalan Barito Tergusur...
ADOLF Heuken dan Grace Pamungkas (2001) menulis, kawasan Menteng di Jakarta Pusat merupakan kota taman pertama di Indonesia, tentunya yang dirancang para arsitek Belanda. Namun, banyak warga Jakarta yang belum tahu bahwa Kebayoran Baru di Jakarta Selatan adalah kota taman pertama di Indonesia yang dirancang arsitek lokal, Moh. Soesilo (1948).
Kebayoran Baru merupakan adaptasi kota taman bergaya Eropa (Belanda) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis yang banyak dikembangkan oleh Thomas Karsten di beberapa kota di Jawa (Bogor, Bandung, Malang) dan luar Jawa, di mana arsitek Moh. Soesilo adalah salah satu muridnya.
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor D.IV-6099/33/ 1975, kawasan Kebayoran Baru ditetapkan sebagai Kawasan Pemugaran. Bahkan, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2000-2010 telah menetapkan sebagian besar kawasan Kebayoran Baru sebagai Kawasan Perumahan/Hunian. Maka, Kebayoran Baru seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai contoh warisan budaya kota taman pertama di Indonesia. Bukan malah digadaikan.
Sumber: Harian Kompas, Jumat, 06 Agustus 2004 didalam Indi Arsitektur.
Jalan Barito sebagai bagian dari segmen sejarah arsitektur tersebut, baru-baru telah dialih fungsikan menjadi taman kota.... padahal, pada waktu itu jalan barito merupakan bagian dari perncanaan dan perancangan dari pusat-pusat perniagaan permukiman sekitarnya, seperti pasar Blok A, Blok M, Mayestik, dll.
Sunggu miris melihat tergusurnya pedagang dan kios-kios flora dan fauna sebagai objek dan tempat perniagaan dan tempat lahan untuk penghidupan mereka ..... menurut berita yang resmi rencana mereka akan ditempatkan di sekitar jl. radio dalam (Pasar Inpres, dekat kampus STI&K) yang juga sedang dalam tahap proses pengerjaan akhir/finishing.
Lihat saja kondisi pasar inpres tersebut, banyak sekali permukiman padat, pasar yang sangat tradisional sehingga terkesan menambah kumuh kawasan permukiman ini... tidak menutup kemungkinan pelanggan pedagang kios yang ada di jalan barito enggan ke tempat ini....
Saya sebagai warga kebayoran baru, di kawasan permukiman padat, dan sering melintasi jalan barito sungguh tercengang, bagaimana mungkin bila sebuah napas perjalanan sejarah dan kehidupan bermukim dalam kawasan, dalam waktu singkat dirubah peruntukannya.... saya sangat setuju dengan kawasan ini sebagai taman kota/kawasan, tetapi apa yang terjadi kemudian...? kawasan ini akan sangat sepi, bagaikan kuburan, tanpa adanya gerak roda ekonomi kehidupan, bahkan tidak menutup kemungkinan area ini bisa dijadikan tempat kejahatan, mudah-mudahan saja tidak....!
Itu baru pandangan satu, pandangan kedua... tidak menutup kemungkinan adanya pedagang-pedagang baru yang memanfaatkan kios lahan (taman) kosong ini dijadikan tempat berjualan...
Fungsi taman kota secara umum adalah sebagai ruang terbuka hijau (RTH), sebagai paru-paru kota, filterisasi udara kotor/pencemaran.
Coba tengok saja... taman-taman kota yang dibuat pemerintah kota hanya segelintir orang saja dan bisa dihitung berapa banyak orang yang menjadikan taman sebagai area berinteraksi sosial.
sebagai kawasan yang dinamis, Jalan Barito merupakan bagian dari segmen permukiman dan area bisnisnya merupakan bagian tak terpisahkan...
Iihatlah bagaimana kasus-kasus pedagang kaki lima yang ada di perkotaan ditertibkan, apalagi ini adalah kios resmi dengan adanya Perda Pemkot DKI, bahwa banyak pedagang kaki lima (pedagang rakyat/ekonomi rendahan) di kota-kota besar di indonesia ini memiliki kecencerungan tinggi mendekati konsumen. Ini yang seharusnya menjadi pelajaran dan pengalaman dari pengambil kebijakan kota bahwa untuk merancang sebuah kota kecil/kawasan dengan perniagaannya haruslah mengikutsertakan wong cilik (pedagang kaki lima) menyediakan fasilitasnya (kios) tanpa merusak keindahan kota, bahkan pemerintah kota dapat meningkatkan kulitas view dengan rancangan ornamen yang klasik, trendi, dll tanpa memarginalkan rakya kecil.
Dari sejarah perancangannya kebayoran baru sudah merencanakan pusat-pusat perniagaannya, termasuk jalan barito, sebenarnya konsep Jl. Malioboro di yogyakarta dapat dijadikan contoh, atau konsep revitalisasi kota tua di daerah Kota dapat diterapkan ... tentu saja dengan menempatkan pedagang-pedagang kaki lima.
Banyak sekali desainer perancang kota (urban design) kita yang pintar mengadobsikan Green Architecture, preservasi, revitalisasi, rehabilitasi terhadap taman-taman kota dengan mengikutsertakan pedagang kaki lima sebagai bagian dari konsep tersebut.
Mudah-mudahan tulisan ini menjadi masukan yang berharga buat pemerintah kota.... Amin.
Minggu, 13 Januari 2008
OTONOMI DAERAH DALAM PERJALANAN
Otonomi daerah yang lebih dikenal dengan desentralisasi telah berjalan hampir 10 (sepuluh tahun) sejak dicetuskan oleh beberapa kepemimpinan reoformasi. Reformasi kebijakan ekonomi dan politik. Dalam hal kebijakan politik dalam konteks, pemerintahan yang berpihak kepada pemerintahan daerah (desentralisasi pemerintahan), saat ini telah mengalami kemunduran dan kemajuan. Mengalami kemunduran karena berbagai hal: pertama, otonomi saat ini dipakai oleh elite-elite politik daerah untuk memekarkan diri, banyak alasan daerah untuk melepaskan diri dalam konteks pemekaran wilayah, ya itu tadi, disatu sisi karena merasa tidak puas (baik dari pusat maupun dari pemerintahan lokal), kedua banyak aparatur birokrat menjadikan pemekaran wilayah menjadi ajang dan kesempatan mendapatkan jabatan (lintas sektoral dan non sektoral), ketiga ujung-ujung dari dramatisir itu adalah untuk mendapatkan pengelolaan anggaran, dan yang terakhir karena merasa mampu dan mandiri mengelola sebuah pemerintahan lokal.
Padahal untuk membentuk sebuah pemerintahan yang mandiri dan madani perlu pendewasaan dalam segala hal, pertama yang paling esensial dalam pengelolaan pemerintahan yaitu pembagian tugas pokok dan fungsi (kaya fungsi, miskin struktural tapi ini sebaliknya..!) kesiapan aparatur (SDM yang berkualitas) kesiapan anggaran (dareah harus menyiapkan belanja anggaran rutin dan pembangunan sektoralnya dan non sektoralnya).
Dilihat dari sisi penyiapan anggaran saja pemerintah pusat harus menyiapkan anggaran perimbangan untuk pusat dan daerah, dan sudah pasti ini akan menyedot anggaran pembangunan dan belanja negara (APBN) dan ini pemborosan namanya…
Sedangkan dari sisi sumber daya yang tersedia ini akan menjadi beban negara terutama untuk daerah-dareah yang miskin sumber daya, pemerintah lokal harus berjuang dengan segala upaya untuk meningkatkan PAD, sedangkan sumber daya terbatas, bahkan tidak sedikit kemungkinan akan terjadi tarik ulur terhadap sumber-sumber kekayaan PAD. Banyak sekali contoh-contoh konkrit dimana antara dua daerah berebut dan klaim atas kepemilikan sumber daya lokal termasuk juga kadang-kadang ada klaim pemerintahan pusat. ini merupakan suatu kemunduran didalam berpemerintahan dan contoh buruk buat rakyat…!
Kalau sudah seperti ini sudah sangat multi dimensi: pertama mengikutsertakan rakyat yang tidak tahu menahu dalam persoalan politik karena segelintir elit politik, dan membenturkan antara rakyat dengan pemerintah bahkan terjadi perpecahan antara rakyat dan rakyat yang berujung kepada perang antara masyarakat lokal.
Sedangkan kemajuan yang patut kita hargai dan diacungi jempol adalah desentralisasi terhadap pemilihan pimpinan daerah (Pilkada) karena dari kandidat, Balon terdapat perwakilan yang tidak mencerminkan partai-partai yang ada alias calon independent. Ini merupakan langkah maju didalam berdemokrasi.
Jadi bagiamana menyikapi terhadap daerah yang memekarkan diri?.. ini merupakan tanggungjawab kita bersama. Hal-hal yang perlu direnungkan adalah, sudah sejauh mana pemerintahan yang telah dijalani telah mencapai tujuan-tujuan umum penyelenggaraan negara? indikatornya yaitu, kesejahteraan rakyat secara umum, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. kedua, kayakan fungsi, minimalkan jabatan struktural.Agar tujuan pembangunan daerah lokal mencapai batas-batas maksimal program, ukurannya..? banyak sekali… pertama dari sisi pemerintahan, sudah solidkah aparatur birokrat, bagaimana mengefesienkan kinerjanya, solidkan kinerja dan kerjasama lintas sektoral, efesienkan anggaran daerah,....
Kamis, 03 Januari 2008
Banjir seharusnya tidak datang
Foto satelit yang menunjukkan kawasan tangkapan air untuk sungai-sungai di wilayah Jabodetabek, meliputi lereng utara Gunung Salak, Gede dan Pangrango, serta wilayah Cisarua dan Puncak, Kabupaten Bogor (sumber:www.Maplandia.com)
Di daerah hulu yang menjadi wilayah utama tangkapan air bagi Ciliwung relatif sempit, jika dibandingkan dengan wilayah tangkapan air Sungai Cisadane misalnya, yaitu hanya sekitar 100 km persegi (10.000 ha). Atau kurang lebih setara dengan luas Kota Bogor. Wilayah tangkapan air di Cisarua dan Megamendung ini sekarang sudah beralih fungsi dari hutan dan atau perkebunan bertanaman menahun menjadi wilayah pemukiman, fasilitas pariwisata dan komersial, serta untuk lahan pertanian bertanaman semusim.
Gambar diatas menunjukkan bahwa kawasan puncak seperti megamendung, cisarua, ciawi dan sekitarnya telah berubah warnanya menjadi kecoklatan, ini menunjukan bahwa telah terjadi perubahan fungsi lahan menjadi sektor perumahan, niaga dan perkantoran serta pariwisata. Daerah tangkapan air Kali Ciliwung yang sempit di lereng Gunung Pangrango dan Talaga, yang seharusnya dijaga kelestariannya telah porak poranda menjadi lahan non-kehutanan dan non-perkebunan. Kawasan Cisarua sudah tidak seindah dulu lagi. Sejauh mata memandang kawasan itu dihiasi pemukiman, villa-villa, lahan pertanian sayuran di lahan berkontur miring berpadu dengan lahan tidur yang terlantar. sedangkan pada bagian tengah aliran sungai Ciliwung pun sudah sarat oleh pemukiman penduduk dan kawasan industri, mulai dari Kota Bogor, Cibinong dan Kota Depok. Daerah resapan air sudah semakin sempit. Apalagi memasuki wilayah DKI Jakarta, daerah aliran sungai Ciliwung sudah penuh sesak, padat oleh pemukiman penduduk, industri, fasilitas komersial dan berbagai peruntukan lain, yang tak menyisakan lahan sedikit pun sebagai tempat peresapan air. Belum lagi sampah dan pendangkalan sungai yang semakin menurunkan kemampuan fungsi seperti layaknya sebuah sungai.
Fenomena ini juga terjadi pada sungai-sungai lain yang mengalir di kawasan Jabodetabek. Jika ingin
Atur yang ketat mengenai penataan ruang tanpa pandang bulu, terutama daerah terbuka hijau, Segera atur drainase, reboisasi sempadan sungai, reboisasi lahan tidur, kritis, dan lain sebagainya... dan yang terpenting harus ada waskat terhadap aparatur daerah, dan aparatur kota-kota disekitar jakarta dalam hal izin pembangunan...!
Pada skala mikro, buat sumur-sumur peresapan sebanyak mungkin. Dapat dengan ketentuan, misalnya setiap 25 meter persegi lahan harus dibuat satu sumur peresapan, baik di pemukiman, fasilitas umum, komersial, industri dan fasilitas lainnya. Hindari bahkan larang plesterisasi untuk perkerasan tanah, untuk memberi kesempatan air meresap secara alami seluas mungkin. Sebagai jalan tengah, perkerasan dapat dilakukan dengan grassblock, atau plesterisasi manual pra-cetak in-situ (plesterisasi yang dapat dibuat sendiri dengan mencetak blok-blok kecil, misalnya berukuran 20x20 cm dari pasir, kerikil dan semen) yang dibentuk dengan tetap memberi celah – celah bagi tanah. Kemudian tidak menggunakan lapisan aspal pada jalan-jalan intern di pemukiman, perkantoran, dan industri. Pada kawasan ini dapat dibuat dengan lapisan pasir dan conblock dan grassblock.
